Langsung ke konten utama

Postingan

Buku Filosofi Teras, Mental Tangguh Menghadapi Dinamika Hidup

Apa kabar ? Masihkah semangatmu nyala? Atau terendap dalam kubangan emosi negatif ? Kenalan yuk sama buku filosofi teras , siapa tahu dengan membaca buku ini bisa mengubah persepsimu tentang musibah yang kamu alami serta emosi negatif yang belum mampu dikendalikan seperti rasa cemas, khawatir hingga depresi.  Judul Buku : Filosofi Teras Penulis : Henry Manampiring Penerbit : Kompas  Terbit : Tahun 2018 Jumlah: 344 halaman Rating 🌟🌟🌟🌟 Baca melalui iPusnas Ternyata, sumber itu semua letaknya di pikiran kita. Kebiasaan kita yang suka mendramatisir kesedihan dan berlarut-larut di di dalamnya, memicu emosi negatif, yang bikin hidup tidak tenang. Kita senantiasa dirong-rong oleh kekhawatiran yang kita ciptakan sendiri. Padahal, belum tentu terbukti juga, kan ? Some things are up to us, some things are not up to us - Epictetus Karena itu, melalui buku  Filosofi Teras, Om Piring sapaan akrab penulis, menganjurkan kita harus mencoba belajar mengendalikan pikiran melalui dikotomi

Nostalgia Singkat

Minggu lalu, saya bersua kawan lama, intensitas pertemuan kami bisa dihitung pake jari, saking jarangnya. Kemajuan teknologi sekali pun tak jua mampu menjembatani komunikasi untuk lebih leluasa. Kesibukan menjalani kehidupan masing-masing berikut tantangan-tantangan yang kian hari kian tak mudah. Meski demikian, kami punya ikatan kuat yang sudah terjalin sejak lama, kesamaan latar belakang keluarga, berbagi suka duka serta canda tawa yang berujung menjadi memori manis yang masih lekat di ingatan.  Semula, saya hampir pasti tidak akan menghadiri undangan pernikahan yang dikirimkan virtual melalui grup chat "Konco Lamo", bukan antipati atau keburu paranoid diburu pertanyaan horor "Kamu kapan nih?". Jujur, saya sudah berdamai dengan diri sendiri dan sampai pada sebuah kesimpulan untuk tak usah riweuh memenuhi standar ideal versi orang lain. Karena itu saya lebih nyantai saja sih. Toh, sumber kebahagiaan itu banyak ragamnya kok. Tak mengapa, nggak perlu resa

Book Review : Kim Ji-Yeong, Lahir Tahun 1982

Kim Ji-Yeong, Lahir Tahun 1982 , kisah perempuan biasa yang mengalami tekanan budaya Patriarki  Foto :  Gramedia Pustaka Utama Judul :  Kim Ji-Yeong, Lahir Tahun 1982 Penulis :  Cho Nam-Joo Genre : Novel Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : 2019 Rating : 🌟🌟🌟🌠 Baca melalui  iPusnas Menjadi perempuan tentu tidak mudah, terutama apabila kamu hidup dalam masyarakat yang demikian kental memuja Patriarki , di mana kaum laki-laki sebagai poros utama di segala lini kehidupan. Sementara perempuan mengurus hal remeh remeh. Peranannya  dipinggirkan, dipandang sebelah mata, hanya cocok kebagian sumur-dapur-kasur.  Pernah nggak muncul pertanyaan seperti, apakah terlahir sebagai  perempuan sebuah kesalahan? Kenapa begitu banyak keharusan-keharusan yang harus dilakoni ? Benarkah perempuan tak berhak berdikari?  Benarkah perempuan tak boleh memiliki kepintaran dan mengaktualisasikan pengetahuannya ? Lantas, kalau sudah memiliki anak, ia harus melepaskan impiannya ?  Aku bek

Dear World : Pesan Perdamaian Dari Seorang Bocah Korban Perang - Bana Alabed

     Dear World - Bana Alabed     foto : Gramedia Judul :  Dear World : Pesan Perdamaian Dari Seorang Bocah Korban Perang Penulis :  Bana Alabed Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Rating 🌟🌟🌟🌟 Baca melalui  iPusnas Kisah cinta dan keberanian di tengah kebrutalan dan teror ; inilah kesaksian seorang anak yang telah mengalami hal yang tak terbayangkan - J.K.  Rowling  Nama besar penulis J.K. Rowling merupakan magnet yang menarikku untuk membaca lembaran demi lembaran kisah Bana Alabed , seorang bocah korban perang dari Suriah . Bana dan ibunya, Fatemah secara bergantian menuturkan apa yang mereka alami kala itu. Hati siapa yang tak ikutan gerimis, meski jarak demikian jauh, nurani sebagai sesama manusia bertaut, saya terlarut dalam kisahnya. Sebuah kisah yang mampu hangatkan kalbu, mengingatkan diri untuk selalu berucap syukur serta mendaraskan doa-doa baik bagi saudara kita yang masih terlibat konflik, yang tercerabut paksa dari tanah airnya, harus kehilangan anggota keluarga, dan ber

Kepala Penuh Abu

Aku bangun dengan kepala penuh abu.  Napas lebih lambat Seolah hatiku mampat Tersumbat entah apa  Mungkin karena mimpi semalam Ia hadir seketika tanpa aba-aba Ada apa gerangan?  Haruskah kuterjemahkan   dan temukan makna atau menepis,   memilih abai  Toh, tak semua butuh pemaknaan Ya , Barangkali ... 

Ampas Kopi

Bukan begini mauku ! Duduk manis termangu  menunggu siang Berselancar bebas dijejaring sosial Menyeruput kopi susu yang terlanjur dingin. Bukan !!! Langit boleh saja mendung Tak demikian hidup Apa pun yang terjadi, bahkan segetir-getirnya Hidup harus terus berlanjut. Aku bangkit menyingkir dari jejaring sosial Menatap langit mendung Tidak akan!  Tidak boleh !  Sungguh kali terakhir. Aku penuhi janji Tak hanya kepada-Mu, Tuhan Juga kepada hidup Kepada diri bernama  Aku Aku berhak bahagia !!! Sruput kopi sampai habis, menyisakan ampas Sama seperti ketika kepedihan mengobrak-abrik Tersisalah ampas Berupa luka Luar biasa perih Namun , tak bersedia hancur Luka itulah pengingat untuk jadi lebih baik Untuk bangkit berdiri Semoga putaran hidup Takkan pernah sekali-kalinya nakal Menautkan kita pada sebuah perjumpaan Toh, begini sudah cukup melegakan

My Favorite Instagram Accounts

      Foto :  MizzYani Salah satu platform media sosial favoritku. Saya punya 2 akun Instagram, duh ... Maruk banget yaaa ...  Entah ini anugerah atau kutukan, saya punya ketertarikan pada banyak hal, dari kesenangan pada fotografi yang selaras dengan hobi jalan-jalan, kebucinan akut  sama Nicholas Saputra . Ketiga hal inilah yang memantapkan tekad saya bikin akun Instagram. Fotografi, jalan-jalan, bucin Nicholas Saputra, gemar merangkai kata, terciptalah akun MizzYani_12, akun idealismeku. Murni foto landscape, pokoknya Nicsap banget  😍😅 Sampai negara api menyerang, hampir gak berkesempatan untuk jalan-jalan sampai tragedi memilukan, hapeku rusak. Untuk mengalihkan itu semua dan tidak menodai akun, bikin akun kedua, Cerita_mizzyani, niat awal mau menulis lebih konsisten, tau-tau kedistraksi drama Korea 😅😂 Stop !!!  Mukadimahnya kepanjangan, malah promo akun Instagram pribadi. Tapi, kalau kamu berkenan follow, akan dengan senang hati saya follback, itung-itung namba