Langsung ke konten utama

REVIEW NOVEL : LITTLE WOMEN

Little Women (Gramedia)
 


Ketika kau merasa tidak puas, hitunglah berkatmu dan bersyukurlah   

 

Novel ini pertama kali diterbitkan 30 September 1868 dan telah terjual lebih dari 2000 eksemplar. Novel laris selama puluhan tahun dan dibaca hingga kini dari generasi ke generasi. Bacaan sastra populer di Amerika. Makanya novel ini pun di adaptasi ke dalam film, yang terbaru dibintangi oleh Saoirse Ronan, mendapat banyak kritikan bagus di kalangan perfilman. Namun, saya tidak membahas seperti apa film Little Women yaaa, karena belum menontonnya. 

Berlatar di Concord, Amerika Serikat, pada abad
 ke 19, mengisahkan tentang kehidupan keluarga March dengan ke-empat puterinya 
yaitu ; Meg yang cantik dan lembut, Jo yang tomboy namun bersemangat, cenderung temperamental, suka bereksperimen, dan senang menulis, Beth yang rapuh namun berhati lembut serta baik hati, Ami yang artistik, paling nyeni, egois serta kekanak-kanakan. 
 
Kisah bermula saat Mr March harus meninggalkan keluarganya demi mengemban tugas negara, pergi ke Medan perang. Terbayang seperti apa beratnya kehidupan tanpa sosok ayah yang selama ini menjadi tempat mereka bersandar. Untunglah, sang ibu yang biasa mereka sebut Marmee, selalu ada menopang keluarga serta memberikan petuah kebijaksanaan bagi ke-empat puterinya. 

Mereka bukan dari keluarga berada, tapi Marmee selalu mengajarkan untuk tak lupa menampung syukur, bahwa kecintaan kepada keluarga lebih utama ketimbang pemenuhan materi. Mereka ber-empat tak pernah kehilangan akal untuk bersenang-senang meski dalam keterbatasan. Seperti mengadakan pementasan teater, mendeklarasikan puisi, bernyanyi diiringi piano dan banyak hal menarik lainnya. Hal inilah yang membuat tetangga kaya raya mereka Laurie tertarik untuk bergabung. Pertemanan pun terjalin. Kerap mereka dibantu oleh kebaikan dan kemurahan hati  Laurie serta kakeknya. 

Kesan tentang Little Women

Pertama tahu tentang novel ini lewat cuplikan trailer film Little Women, iseng mencoba cari tahu di aplikasi Ipusnas, dan voila saya menemukan beberapa karya Louisa May Alcott lainnya seperti Good Wives.  

Untuk zamannya, saya salut dengan pemikiran Louisa May Alcott yang berwawasan tinggi seperti bagaimana ia menggambarkan sosok Jo yang feminis, tak seperti kebanyakan perempuan pada masa itu. Seolah mengejawantahkan dirinya melalui karakter yang ia ciptakan. 

Membaca buku ini kita seperti diingatkan betapa pentingnya kehangatan keluarga, menahan amarah, berlapang dada, serta bersyukur. 

Baca Juga : 

Sosok Jo membuat saya jatuh hati terutama ketika ia mengorbankan rambut untuk dijual ke sebuah salon demi menambah ongkos perjalanan ibunya ke Washington agar bisa menjenguk ayah mereka yang sakit keras. Ia pun senang menulis dan pemikirannya membuat saya terpukau. Cukup kecewa Jo tak berakhir dengan Laurie 😭

Oiya, Jo sangat telaten merawat Beth selama sakit parah. Tak sekalipun ia beranjak dari sisi Beth. Paling depan urusan mengulurkan bantuan. Tidak mikir lama. Pokoknya, di mata Jo keluarganya adalah segalanya. Terbukti Jo yang paling banyak berkorban untuk keluarga March. 

Kesombongan merusak orang-orang yang paling cerdas sekalipun. Kualitas terbaik dari semua kekuatan adalah kerendahan hati

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar - Tere Liye

Hampir 6 tahun lamanya, saya memutuskan berhenti membaca buku-buku karya Tere Liye . Bukan karena karyanya jelek. Melainkan, saya ingin eksplorasi karya penulis lain. Rasanya, hidup terlalu singkat, bila hanya dihabiskan membaca satu karya penulis saja. Mulailah saya bertualang dan mengoleksi berbagai buku yang menarik perhatian dan memperkaya wawasan dan sudut pandang.  Hingga suatu hari, terbitlah novel karya Tere Liye yang berjudul Teruslah Bodoh Jangan Pintar. Novel yang rilis tanggal 1 Februari 2024 bertepatan dengan suasana menjelang pemilu.  Jujur, saya sama sekali belum tertarik untuk membeli. Sekadar saya lirik di akun IG Tere Liye. Sampai saya ke-trigger oleh twit dari Ernest Prakasa yang memposting novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye. Kaget dan nggak nyangka ! Ernest Prakasa baca novel Tere Liye !!!! Review-nya ini novel yang sungguh berani. Terlalu berani. Salut .  Saya pun penasaran. Apakah novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar akan se...

Review Buku : Terusir - Buya Hamka

Lumayan lama gak up-date review buku , padahal baca buku jalan terus. Mood nge-review bukunya yang terkadang ambekan. Semua bahan sudah siap, eksekusinya ini loh ckckck Parah beut diriku. Kamu pernah ngalamin  kayak gini juga gak sih ?   Judul : Terusir  Penulis : Buya Hamka Genre : Non-fiksi, Novel Roman Penerbit : Gema Insani Tahun Terbit : 2016 Tebal Buku : 142 halaman  Baca di : iPusnas Rating : 🌟🌟🌟🌟 Kali ini saya mau review buku Terusir karya Buya Hamka. Pasti kamu sudah familiar dengan nama beliau yah. Selain dikenal sebagai ulama kharismatik, beliau juga aktif menulis salah satunya kisah roman. Ada 2 novel beliau yang sangat fenomenal seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka'bah. Kedua novel ini pernah difilmkan dan mendulang sukses.  Buya Hamka piawai meramu kisah pahitnya realitas kehidupan yang seringnya berakhir tragis. Melalui karyanya beliau kerap mengkritisi tradisi adat dan perilaku masyarakat yang diang...

Kenapa Pilih Nama Blog-nya MizzYani ?

Apa kabar puasa di hari pertama bulan Ramadan? Berjalan lancar sampai waktu berbuka atau malah harus mencoba ngerem mulut nggak latah ber-ghibah ? Atau mungkin belajar menahan diri untuk gak lekas kepancing emosinya ? Apa pun itu semoga dilancarkan terus ya ibadah puasa kita sampai ke hari kemenangan nanti, AmiiiN  Arti Nama Blog MizzYani Semalam, saya nemu postingan Blogger Perempuan di Instagram, mereka ngadain program menulis di blog selama bulan Ramadan, temanya menarik dan saya pun membatin ke diri sendiri, kenapa nggak coba ikutan ? Itung-itung belajar menulis dengan konsisten, siapa tahu tulisan saya yang amatiran ini bisa sedikit berkembang jadi enak dibaca, hehe  BPN Ramadan 2021 Sekilas Blog MizzYani Shakespeare pernah berkata, apalah arti sebuah nama. Iya, saya terlanjur meng-amini sampai nggak pernah memikirkan secara mendalam filosofi dibalik nama blog MizzYani. Shakespeare sotoy, tentu saja setiap nama menyimpan makna. Tapi, untuk kasus saya, ya males mikir w...