Langsung ke konten utama

Kegiatan Favorit, Nge-drakor Bareng Papa

Alhamdulillah, Ramadan tahun ini saya termasuk lumayan sibuk. Hanya punya waktu luang di saat weekend. Yah, itu pun masih melakoni pekerjaan domestik. Nggak tau deh kapan beneran dapet waktu luang untuk diri sendiri. Serasa dikerjar-kejar waktu. Huft ... 

Namun, seperti Ramadan yang kehadirannya sebulan sekali, saya pun menyadari hanya tinggal berdua dengan Papa. Usia beliau beranjak menua. Kebersamaan tinggal menghitung hari yang entah kapan. Karena itu saya tak mau menyia-nyiakan kesempatan, tak peduli semelelah apa pun rasanya badan ini. Hehe 

Foto : Pexels 

Menjelang waktu berbuka, saya dan Papa punya kegiatan favorit yaitu maraton nonton drama Korea Vincenzo. Hah? Nge-drakor bareng Papa? Oh, iya dong. Yaa ketimbang si Papa nonton sinetron gak jelas juntrungannya, mending bikin Papa happy, kita bisa ketawa ngakak sepuasnya. Sederhana namun penuh makna. 

Kala sahur, gantian saya yang ngikutin tontonan favorit Papa. Ceritanya sederhana, sangat Indonesia sekali. Namun, sangat menghibur. Si Papa gemar sekali menonton "Preman Pensiun 5". Omong-omong, saya pernah nonton dulunya yang pas masih ada Almarhum Didi Petet. Tetap tak berubah. Kisah keseharian yang lekat dengan kita.

Komentar

Musrayanti mengatakan…
Saya juga suka ..dan teramat suka moga sehat selalu ...Amiin
MizzYani mengatakan…
Waah ... Kesukaannya sama hehe ...
Makasih Teta atas kunjungannya ke blog ini 😁

Postingan populer dari blog ini

Review Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar - Tere Liye

Hampir 6 tahun lamanya, saya memutuskan berhenti membaca buku-buku karya Tere Liye . Bukan karena karyanya jelek. Melainkan, saya ingin eksplorasi karya penulis lain. Rasanya, hidup terlalu singkat, bila hanya dihabiskan membaca satu karya penulis saja. Mulailah saya bertualang dan mengoleksi berbagai buku yang menarik perhatian dan memperkaya wawasan dan sudut pandang.  Hingga suatu hari, terbitlah novel karya Tere Liye yang berjudul Teruslah Bodoh Jangan Pintar. Novel yang rilis tanggal 1 Februari 2024 bertepatan dengan suasana menjelang pemilu.  Jujur, saya sama sekali belum tertarik untuk membeli. Sekadar saya lirik di akun IG Tere Liye. Sampai saya ke-trigger oleh twit dari Ernest Prakasa yang memposting novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye. Kaget dan nggak nyangka ! Ernest Prakasa baca novel Tere Liye !!!! Review-nya ini novel yang sungguh berani. Terlalu berani. Salut .  Saya pun penasaran. Apakah novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar akan se...

Tantangan Menulis 30 Hari

Foto : Pexels Tantangan menulis 30 hari yang diadakan oleh Blogger Perempuan membuat Ramadan terasa menyenangkan. Tak ada lagi waktu terbuang sia-sia. Rutinitas monoton yang biasanya membuatku jemu. Dengan menulis, saya bisa menumpahkan semua beban emosi. Meski kerap dihinggapi perasaan insecure, takut tulisannya tidak menarik, tapi lama kelamaan timbul semacam kesadaran dalam diri bahwa saya toh tidak sendiri. Selama kegiatan ini berlangsung, saya membaca beberapa tulisan para blogger, sebagian memukau, sebagian lain memantik semangat diri untuk terus melanjutkan tulisan ini. Bagus atau enggak, lanjutkan saja, yang penting bangun kebiasaan menulis dulu.  Seumur-umur, baru di tantangan menulis 30 Hari Blogger Perempuan yang konsisten saya ikuti sampai akhir. Biasanya,  sering gugur di tengah jalan. Faktor kesibukan yang dulu saya jadikan alasan. Padahal, yaa karena males aja sebenarnya hehe ...  Saya menulis selepas sahur sambil menunggu adzan Shubuh. Senyap. Suny...

Buku Filosofi Teras, Mental Tangguh Menghadapi Dinamika Hidup

Apa kabar ? Masihkah semangatmu nyala? Atau terendap dalam kubangan emosi negatif ? Kenalan yuk sama buku filosofi teras , siapa tahu dengan membaca buku ini bisa mengubah persepsimu tentang musibah yang kamu alami serta emosi negatif yang belum mampu dikendalikan seperti rasa cemas, khawatir hingga depresi.  Judul Buku : Filosofi Teras Penulis : Henry Manampiring Penerbit : Kompas  Terbit : Tahun 2018 Jumlah: 344 halaman Rating 🌟🌟🌟🌟 Baca melalui iPusnas Ternyata, sumber itu semua letaknya di pikiran kita. Kebiasaan kita yang suka mendramatisir kesedihan dan berlarut-larut di di dalamnya, memicu emosi negatif, yang bikin hidup tidak tenang. Kita senantiasa dirong-rong oleh kekhawatiran yang kita ciptakan sendiri. Padahal, belum tentu terbukti juga, kan ? Some things are up to us, some things are not up to us - Epictetus Karena itu, melalui buku  Filosofi Teras, Om Piring sapaan akrab penulis, menganjurkan kita harus mencoba belajar mengendalikan pikiran me...