Langsung ke konten utama

Ramadan Dan Pandemi

Hai teman-teman ... Tanpa terasa Ramadan akan segera meninggalkan kita ? Sedih nyess hati ini. Ibadah rasanya belum begitu maksimal. Semoga masih diberi kesempatan bersua di Ramadan selanjutnya. 
Foto : Pixabay 
Terus terang, setahun belakangan, kita dihadapkan pada situasi sama peliknya, kehidupan kita berubah, mau tak mau kita pun belajar beradaptasi untuk bertahan di tengah kecamuk Pandemi. Mulanya, saya dan juga kita semua berpikir virus coronces hanya mampir sebentar, paling dalam hitungan bulan pasti berlalu. Namun, tragisnya, virus ini berubah menakutkan, mengancam kehidupan kita setiap saat. Sampai Ramadan yang seharusnya semarak dan jadi ajang silaturahmi dengan keluarga dan teman-teman lama harus kita lalui dalam suasana duka. 

Sedih rasanya ketika kita tak lagi leluasa melaksanakan sholat tarawih di masjid, saling sapa dengan jamaah lain yang mungkin di hari lain tak sempat bersua atau sekadar bertegur sapa. Keakraban itu tercerabut. Masing-masing kita mencoba melindungi diri dengan tetap berdiam di rumah. Saking sapa lewat virtual. Tapi, tetap saja kurang. 

Ramadan dan Pandemi, dua kata yang begitu akrab dan tak lagi membuat kita terkaget-kaget. Adaptasi di tahun pertama Pandemi membuat kita lebih tangguh. Siap untuk segala kemungkinan. Menu berbuka tidak berlebihan. Bukan penggemar takjil. Yang terpenting masih diberi kesempatan berbuka puasa bersama Papa tersayang. 

Terhitung, ini tahun kedua saya tidak merasakan kebagian THR lagi, huhu ..  Sedih sih tidak. Yang namanya rejeki pasti selalu ada. Meski mungkin nominalnya tidak sebanyak sebelum Pandemi menyapa. Tapi, disyukuri saja. 

Pandemi tak membuat gentar meski sempat buat semesta bergetar. Ramadan datang bawa kesadaran bahwa hidup harus lebih banyak bersyukur. Nikmat kesehatan, berkumpul bersama keluarga, masih ada makanan yang dapat disantap tak harus berlebih tapi ada, dan terutama dapat beribadah dengan khusyuk selama Ramadan. Meski Pandemi merubah beberapa hal dalam hidup, ibadah Puasa tak berkurang satu jua pun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tantangan Menulis 30 Hari

Foto : Pexels Tantangan menulis 30 hari yang diadakan oleh Blogger Perempuan membuat Ramadan terasa menyenangkan. Tak ada lagi waktu terbuang sia-sia. Rutinitas monoton yang biasanya membuatku jemu. Dengan menulis, saya bisa menumpahkan semua beban emosi. Meski kerap dihinggapi perasaan insecure, takut tulisannya tidak menarik, tapi lama kelamaan timbul semacam kesadaran dalam diri bahwa saya toh tidak sendiri. Selama kegiatan ini berlangsung, saya membaca beberapa tulisan para blogger, sebagian memukau, sebagian lain memantik semangat diri untuk terus melanjutkan tulisan ini. Bagus atau enggak, lanjutkan saja, yang penting bangun kebiasaan menulis dulu.  Seumur-umur, baru di tantangan menulis 30 Hari Blogger Perempuan yang konsisten saya ikuti sampai akhir. Biasanya,  sering gugur di tengah jalan. Faktor kesibukan yang dulu saya jadikan alasan. Padahal, yaa karena males aja sebenarnya hehe ...  Saya menulis selepas sahur sambil menunggu adzan Shubuh. Senyap. Suny...

Kenapa Pilih Nama Blog-nya MizzYani ?

Apa kabar puasa di hari pertama bulan Ramadan? Berjalan lancar sampai waktu berbuka atau malah harus mencoba ngerem mulut nggak latah ber-ghibah ? Atau mungkin belajar menahan diri untuk gak lekas kepancing emosinya ? Apa pun itu semoga dilancarkan terus ya ibadah puasa kita sampai ke hari kemenangan nanti, AmiiiN  Arti Nama Blog MizzYani Semalam, saya nemu postingan Blogger Perempuan di Instagram, mereka ngadain program menulis di blog selama bulan Ramadan, temanya menarik dan saya pun membatin ke diri sendiri, kenapa nggak coba ikutan ? Itung-itung belajar menulis dengan konsisten, siapa tahu tulisan saya yang amatiran ini bisa sedikit berkembang jadi enak dibaca, hehe  BPN Ramadan 2021 Sekilas Blog MizzYani Shakespeare pernah berkata, apalah arti sebuah nama. Iya, saya terlanjur meng-amini sampai nggak pernah memikirkan secara mendalam filosofi dibalik nama blog MizzYani. Shakespeare sotoy, tentu saja setiap nama menyimpan makna. Tapi, untuk kasus saya, ya males mikir w...

Review Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar - Tere Liye

Hampir 6 tahun lamanya, saya memutuskan berhenti membaca buku-buku karya Tere Liye . Bukan karena karyanya jelek. Melainkan, saya ingin eksplorasi karya penulis lain. Rasanya, hidup terlalu singkat, bila hanya dihabiskan membaca satu karya penulis saja. Mulailah saya bertualang dan mengoleksi berbagai buku yang menarik perhatian dan memperkaya wawasan dan sudut pandang.  Hingga suatu hari, terbitlah novel karya Tere Liye yang berjudul Teruslah Bodoh Jangan Pintar. Novel yang rilis tanggal 1 Februari 2024 bertepatan dengan suasana menjelang pemilu.  Jujur, saya sama sekali belum tertarik untuk membeli. Sekadar saya lirik di akun IG Tere Liye. Sampai saya ke-trigger oleh twit dari Ernest Prakasa yang memposting novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye. Kaget dan nggak nyangka ! Ernest Prakasa baca novel Tere Liye !!!! Review-nya ini novel yang sungguh berani. Terlalu berani. Salut .  Saya pun penasaran. Apakah novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar akan se...