Langsung ke konten utama

Puasa Di Rumah Aja

Foto : Pixabay 

Rumah menjadi tempat pelarian ternyaman setelah berjibaku demi bertahan hidup. Pada blogpost sebelumnya, saya kerap bercerita bahwa rumah sebaik-baik tempat untuk pulang. Meski tinggal berdua saja dengan Papa, namun kehadiran beliau yang tidak banyak omong, cukup mengisi pasokan energi yang sebelumnya terkuras demi bertahan hidup. 

Bisa dibilang saya dan Papa tidak terlampau banyak bicara. Sesekali kami melontarkan guyonan, atau saling menjahili satu sama lain. Selebihnya, menikmati keheningan, memulihkan diri, kita butuh ruang untuk sendiri, bukan ? 

Bertambah usia, keinginan untuk keluar rumah berkurang, energiku terbatas, gampang lelah, maunya rebahan saja. Barangkali, menjadi dewasa seperti ini yah .... Rasanya ketenangan diri menjadi prioritas utama. 

Ramadan tahun ini pun juga sama tapi dijalani tanpa kekhawatiran, Alhamdulillah hati damai, pikiran tentram. 

Puasa di rumah saja ya tidak apa-apa. Bukan masalah. Selain menyiapkan makanan untuk buka puasa, membaca buku lembar demi lembar hapuskan jemu menunggu hingga azan Maghrib berkumandang. Atau menyempatkan waktu menonton drama Korea terbaru, bisa jadi option lain. Dengan catatan, nggak nonton drama romance, hehe 

Setiap hari, kegiatan saya bervariasi, terkadang saya menulis, mencurahkan isi hati, melepas beban-beban yang memenati kepala, atau nge-blog dengan join 30 Day Blog Challenge dari BLogger Perempuan Network. Meski bakal kerepotan bagi waktu tapi saya sudah punya tekad harus konsisten dan berkomitmen bisa menyelesaikan sampai tahap akhir. Pasti bisa pokoknya !!! 

Satu hal lagi, tidak melupakan kegiatan keagamaan, pastinya intensitasnya lebih ditingkatkan. Baca Alquran contohnya diusahakan bisa 2 atau 3 kali sehari. Niatnya kepengen bisa khatam sebelum lebaran, nggak tau bakal kekejar atau nggak. Yang penting, niat baik dulu kan ?

Baca Juga

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar - Tere Liye

Hampir 6 tahun lamanya, saya memutuskan berhenti membaca buku-buku karya Tere Liye . Bukan karena karyanya jelek. Melainkan, saya ingin eksplorasi karya penulis lain. Rasanya, hidup terlalu singkat, bila hanya dihabiskan membaca satu karya penulis saja. Mulailah saya bertualang dan mengoleksi berbagai buku yang menarik perhatian dan memperkaya wawasan dan sudut pandang.  Hingga suatu hari, terbitlah novel karya Tere Liye yang berjudul Teruslah Bodoh Jangan Pintar. Novel yang rilis tanggal 1 Februari 2024 bertepatan dengan suasana menjelang pemilu.  Jujur, saya sama sekali belum tertarik untuk membeli. Sekadar saya lirik di akun IG Tere Liye. Sampai saya ke-trigger oleh twit dari Ernest Prakasa yang memposting novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye. Kaget dan nggak nyangka ! Ernest Prakasa baca novel Tere Liye !!!! Review-nya ini novel yang sungguh berani. Terlalu berani. Salut .  Saya pun penasaran. Apakah novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar akan se...

Review Buku The Things You Can See Only When You Slow Down - Haemin Sunim

[ Review Buku The Things You Can See Only When You Slow Down - Haemin Sunim ] Buku merupakan tempat pelarian ternyaman yang saya pilih. Setiap kali lelah dengan ekspektasi yang seringnya ketinggian, cemas sama masa depan, khawatir dengan opini orang lain atau kesal dan kecewa ketemu orang-orang yang bikin emosi. Ajaibnya, dengan buku kayak punya teman cerita, teman diskusi yang asyik dan nyambung. Boro-boro di dunia nyata, susah ketemunya. Hehe  Sama halnya, saat saya baca Buku The Things You Can See Only When You Slow Down ini, berisi pesan-pesan singkat seperti kutipan bijak dan essai sederhana namun bermakna. Saking sukanya, buku ini sudah berkali-kali saya baca ulang. Tapi, baru kali ini, saya sempat mereview buku yang terjual  lebih dari 3 juta eksemplar dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.  Buku ini mengulas segala aspek kehidupan sehingga wajar kamu pun bakal merasa relate dengan 8 Bab yang dijabarkan yakni Bab 1 : Istirahat, Bab 2 : Keber...

Buku Filosofi Teras, Mental Tangguh Menghadapi Dinamika Hidup

Apa kabar ? Masihkah semangatmu nyala? Atau terendap dalam kubangan emosi negatif ? Kenalan yuk sama buku filosofi teras , siapa tahu dengan membaca buku ini bisa mengubah persepsimu tentang musibah yang kamu alami serta emosi negatif yang belum mampu dikendalikan seperti rasa cemas, khawatir hingga depresi.  Judul Buku : Filosofi Teras Penulis : Henry Manampiring Penerbit : Kompas  Terbit : Tahun 2018 Jumlah: 344 halaman Rating 🌟🌟🌟🌟 Baca melalui iPusnas Ternyata, sumber itu semua letaknya di pikiran kita. Kebiasaan kita yang suka mendramatisir kesedihan dan berlarut-larut di di dalamnya, memicu emosi negatif, yang bikin hidup tidak tenang. Kita senantiasa dirong-rong oleh kekhawatiran yang kita ciptakan sendiri. Padahal, belum tentu terbukti juga, kan ? Some things are up to us, some things are not up to us - Epictetus Karena itu, melalui buku  Filosofi Teras, Om Piring sapaan akrab penulis, menganjurkan kita harus mencoba belajar mengendalikan pikiran me...