Langsung ke konten utama

Tentang Profesiku

Saya tidak tahu persis apa sebutan yang tepat untuk Profesiku ini, guru antar jemput, guru mobil atau apa pun. Yang pasti, pekerjaan yang sering dipandang sebelah mata itu mampu menopang kehidupanku sampai sekarang. 
Tentang profesi
Sumber : istockphoto

Ternyata, saya bertahan demikian lama dengan profesi ini. Sama sekali nggak pernah terbayangkan bisa betah. Di awal-awal melakoni pekerjaan ini, begitu banyak masalah yang harus dihadapi dengan mental baja. Nggak kehitung berapa banyak malam yang terlewati dengan air mata. But, here i am ... 

Memang profesi saya kalah mentereng dibanding teman sepantaran. Bukan sesuatu yang bisa dibangga-banggakan. Tapi, entah kenapa, saya belajar banyak hal. Si anak tunggal ini nggak lagi kesepian. Di tempat kerja, saya lebih banyak tertawa terutama saat bertemu dan berkumpul dengan anak-anak. Usia mereka beragam dari yang balita hingga yang mau puber. Nggak jarang, tingkah saya serupa mereka. 

Terus, mau bekerja sampai kapan ? Nggak kepengen beralih profesi ? Untuk saat ini, saya menemukan rasa nyaman, bahagia, dan kepuasan yang tidak bisa dinilai dengan rupiah. Kalau ada yang kesal karena tanggal merah maka orang itu adalah saya. Dunia terasa monoton kalo nggak kerja dan ketemu anak-anak. 

Komentar

Mbu mengatakan…
Ga sedikit orang dengan gaji besar tapi suasana kerja ga nyaman. Sangat perlu disyukuri ka ☺
MizzYani mengatakan…
Iya kak. Banyak bersyukur adalah kunci menikmati pekerjaan 😘

Postingan populer dari blog ini

Review Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar - Tere Liye

Hampir 6 tahun lamanya, saya memutuskan berhenti membaca buku-buku karya Tere Liye . Bukan karena karyanya jelek. Melainkan, saya ingin eksplorasi karya penulis lain. Rasanya, hidup terlalu singkat, bila hanya dihabiskan membaca satu karya penulis saja. Mulailah saya bertualang dan mengoleksi berbagai buku yang menarik perhatian dan memperkaya wawasan dan sudut pandang.  Hingga suatu hari, terbitlah novel karya Tere Liye yang berjudul Teruslah Bodoh Jangan Pintar. Novel yang rilis tanggal 1 Februari 2024 bertepatan dengan suasana menjelang pemilu.  Jujur, saya sama sekali belum tertarik untuk membeli. Sekadar saya lirik di akun IG Tere Liye. Sampai saya ke-trigger oleh twit dari Ernest Prakasa yang memposting novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye. Kaget dan nggak nyangka ! Ernest Prakasa baca novel Tere Liye !!!! Review-nya ini novel yang sungguh berani. Terlalu berani. Salut .  Saya pun penasaran. Apakah novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar akan se...

Review Buku : Terusir - Buya Hamka

Lumayan lama gak up-date review buku , padahal baca buku jalan terus. Mood nge-review bukunya yang terkadang ambekan. Semua bahan sudah siap, eksekusinya ini loh ckckck Parah beut diriku. Kamu pernah ngalamin  kayak gini juga gak sih ?   Judul : Terusir  Penulis : Buya Hamka Genre : Non-fiksi, Novel Roman Penerbit : Gema Insani Tahun Terbit : 2016 Tebal Buku : 142 halaman  Baca di : iPusnas Rating : 🌟🌟🌟🌟 Kali ini saya mau review buku Terusir karya Buya Hamka. Pasti kamu sudah familiar dengan nama beliau yah. Selain dikenal sebagai ulama kharismatik, beliau juga aktif menulis salah satunya kisah roman. Ada 2 novel beliau yang sangat fenomenal seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka'bah. Kedua novel ini pernah difilmkan dan mendulang sukses.  Buya Hamka piawai meramu kisah pahitnya realitas kehidupan yang seringnya berakhir tragis. Melalui karyanya beliau kerap mengkritisi tradisi adat dan perilaku masyarakat yang diang...

Buku Filosofi Teras, Mental Tangguh Menghadapi Dinamika Hidup

Apa kabar ? Masihkah semangatmu nyala? Atau terendap dalam kubangan emosi negatif ? Kenalan yuk sama buku filosofi teras , siapa tahu dengan membaca buku ini bisa mengubah persepsimu tentang musibah yang kamu alami serta emosi negatif yang belum mampu dikendalikan seperti rasa cemas, khawatir hingga depresi.  Judul Buku : Filosofi Teras Penulis : Henry Manampiring Penerbit : Kompas  Terbit : Tahun 2018 Jumlah: 344 halaman Rating 🌟🌟🌟🌟 Baca melalui iPusnas Ternyata, sumber itu semua letaknya di pikiran kita. Kebiasaan kita yang suka mendramatisir kesedihan dan berlarut-larut di di dalamnya, memicu emosi negatif, yang bikin hidup tidak tenang. Kita senantiasa dirong-rong oleh kekhawatiran yang kita ciptakan sendiri. Padahal, belum tentu terbukti juga, kan ? Some things are up to us, some things are not up to us - Epictetus Karena itu, melalui buku  Filosofi Teras, Om Piring sapaan akrab penulis, menganjurkan kita harus mencoba belajar mengendalikan pikiran me...